Uncategorized

Amok Sayang

Oleh Ananda Putri Maharani

Along tersadar dari tidur lelapnya. Ia mendengar suara dari arah dapur. Masih malam, pikirnya. 

“Eh, Mama, ngapain?” Along melihat Mamanya mengambil baskom lalu menuangkan air ke dalamnya.

“Amok demam. Mama mau kompres,” serak suara Mama terdengar jelas sudah lelah.

Ternyata Amok, adik kecil perempuan bermata bulat dan kulit putih itu sakit. Along tidak menduga sebelumnya. Amok aktif dan sempat bermain dengan dirinya tadi sore.

“Kok, bisa, Ma?” tanya Along menunggu jawaban Mama yang berpengalaman pernah kerja di rumah sakit pemerintah.

“Entahlah, Nak. Mungkin virus. Amok sering makan apa pun yang dipegangnya,” jelas Mama tersenyum.

Along melihat Amok masih tertidur, kadang ia mendengar suara rintihan, seakan sedang menahan sakit. 

Mama duduk disebelah Along dan mulai mengambil handuk hangat untuk mengompresi dahi Amok. Kemudian, Mama mengulangi pada handuk yang berbeda pada kedua telapak kaki Amok. Kasihan, Along membatin. 

Lalu, sudut mata Along melihat cairan kuning membasahi celana merah muda motif bunga milik Amok.

“Mama, lihat!” seru Along mengagetkan Amok dari mimpinya.

“Subhanallah, ternyata menceret. Kasihan, Amok.” Mama segera  mengarahkan Along mengambil popok sekali pakai dan tisu basah di atas dipan samping tempat tidur.

“Kasihan Amok, ya, Ma,” getir suara Along.

“Di usia Amok hampir satu tahun ini, memang asyik eksplorasi semua melalui mulutnya,” jelas Mama membersihkan semua sisa kotoran yang masih menempel pada pinggul Amok,

“jadi wajar jika Amok makan apa saja yang ia lihatnya.” 

Along mengangguk setuju. 

Kini, ia teringat pernah melihat Amok sedang menggigit sendal jepit miliknya di teras rumah beberapa hari yang lalu. Jadi, sewajarnya bisa saja kuman yang ia telan dapat menginfeksi perutnya.

“Berarti sekarang mesti hati-hati, ya, Ma. Apapun yang berserakan di lantai, mau tak mau dikembalikan ke tempatnya,” terang Along menyandarkan tubuhnya di samping Amok dan memandangi wajah adik perempuan satu-satunya itu.

“Betul,” Mama menjawab seraya kembali menepuk punggung Amok hingga Along ikut terlelap.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top