Uncategorized

Berbahasa Tanah Kelahiran

Oleh Ananda Putri Maharani

Gedung-gedung pencakar langit silih berganti dengan berlatarkan langit biru, awan putih, dan semburat cahaya matahari. Abam mengamati dari balik jendela taksi menikmati hiruk-pikuk keramaian ibukota Kualalumpur.

Pada usia delapan tahunnya, kali pertama Abam menginjakkan kakinya di negara yang terkenal dengan Menara Kembarnya. Berdalih ingin menemani Baba seminar, sebenarnya Abam ingin mencicipi minuman teh tarik dan roti canai yang terkenal enak itu.

Taksi yang ia tumpangi cukup mengurangi rasa penat Abam setelah berlarian di taman sebelah penginapan yang berjarak sepuluh menit dari Menara Kembar. Setelah Baba menyelesaikan kegiatannya di hotel tempat mereka menginap, Abam bersama Baba dan Umma langsung menuju tempat restoran yang sudah mereka nantikan.

Ketika Abam hampir lelap dalam mimpinya, terdengar bunyi pematik api. Tidak menunggu lama dalam sekejap kepulan asap batang abu-keputihan itu berkumpul menyelimuti sisi ruang taksi. Semua terbatuk-batuk.

Umma menutup hidungnya rapat-rapat demi melindungi adik bayi di dalam perutnya. Abam memijit tombol ‘buka’ dengan keras-keras dan siap menghirup udara seakan-akan tidak bersisa oksigen di dalam parunya.

“Baba,, uncle-nya merokok!” tuduh Babam menunjuk dengan jelas kepada sosok setengah tua berpakaian kemeja putih dengan noda kopi pada bahu kirinya. Sosok itu masih saja mengepulkan asap tanpa merasa tiga penumpang di dalam mobilnya bernapas kepayahan.

Baba berbicara dengan sosok disampingnya. Walalupun tidak ada penolakan, dan seakan-akan paham apa yang dipinta Baba, supir itu tidak mengindahkan dan menghentikan tindakannya. Ia hanya mempercepat hisapan dari mulutnya sehingga mengakibatkan asap di dalam ruang seukuran empat penumpang itu putih dan bau pekat memualkan.

Poning ma Hita, kaluar ma songo ni ta!” rintih Umma terlihat makin pucat dari raut mukanya.

Sobar songo ni…, sebentar lagi kita sampai,” rayu Baba menyemangati Umma.

Indak, Ba! Au dung indak kuat,” rajuk Umma dibalas anggukan setuju Papa.

Abam mendengar dengan seksama tanpa ingin salah memahami percakapan mereka dalam bahasa tanah kelahiran Baba. Mandailing Selatan. Abam membaca situasi yang tidak menyenangkan saat Baba dan Umma mulai berbicara dalam bahasa yang mungkin tidak dipahami oleh pak supir taksi.

“Bam, tolong bawakan tas Umma, ya,” perintah Baba.

“Iya, Ba.”

Dalam keresahannya, Abam mengalungkan tas Umma dan mengenakan sepatu–sendal merah kesayangannya. Restoran yang mereka tuju belum terlihat sampai ujung jalan raya kota. Abam hanya melihat deretan perkantoran dengan pepohonan rindang menutupi langit.

“Kita sudah sampai, ya, Ba?” ragu Abam hati-hati.

Tanpa penjelesan lebih lanjut, Baba mengarahkan telunjuk ke tepi jalan. Pak supir segera menghentikan mobilnya dengan raut tanpa bersalah. Pun, mereka turun dengan bayaran yang sudah dipatok harga tinggi. Kedua alis Baba bertautan hebat dengan hembusan napas paksa.

“Tidak usah pedulikan,” tandas Umma menenangkan Baba dengan genggaman tangannya.

Belum sampai hilang taksi itu dari pandangan, mobil polisi menyalakan sirine dan memberhentikan taksi tersebut.

Taon kon!” geram Baba melihat ketidakpedulian supir taksi itu. Semua orang mendengar dan memandang aneh Baba. Abam dan Umma mencoba menahan rasa tawa gelinya.

Seraya menunggu taksi berikutnya, Abam melihat Baba memijat pelipis Umma. Raut warna Umma lebih baik dari sebelumnya, walaupun masih tampak jelas Umma masih butuh udara segar.

“Baba…! Kenapa, sih, Baba dan Umma tadi pakai bahasa Mandailing?”

Baba dan Umma tersenyum.

“Tadi Abam tahu artinya?” tanya Baba.

“Sedikit tahu, kan, Baba selalu ajarkan Abam di rumah,” potong Abam.

“Alhamdulillah! Perlu Abam ketahui, salah satu cara kita mengingat dan menghargai asal usul adalah dengan mengenal bahasa sehari-harinya. Selain bertujuan untuk melestarikannya, ada hal yang lebih penting, yaitu kita dapat menjaga silaturahim,” jelas Baba, “masih banyak keluarga dekat sampai keturunannya, terutama di kampung Baba, Kotanopan Rao, perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara.”

“Apalagi jika Abam merantau ke negeri orang dan bertemu satu bahasa tanah kelahiran. Wah, itu kenikmatan yang sangat luar biasa, Nak,” pesan Baba dibalas anggukan Abam.

“Dan perlu diingat juga, dari bahasalah silsilah keluarga kita terjaga dengan baik,” ujar Baba.

Umma mengangguk setuju. Pun, Abam mengikuti.

Semakin hari Abam memahami kenapa kita harus menjaga kelestarian bahasa tanah kelahiran. Apalagi dapat saudara baru di luar Indonesia.

Akhirnya taksi yang ditunggu telah tiba. Abam, Umma dan Baba naik dan tidak sabar ingin sampai ke tempat yang dituju.

Keta!

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top