Uncategorized

Berdiri Sendiri

Ananda Putri Maharani

Hari ini hari Kamis. Kegiatan rumah berjalan seperti biasa. Along berjaga di depan layar komputernya seraya mendengarkan penjelasan Ibu Najwa, guru Ilmu Pengetahuan Alam, tentang penciptaan alam.

Angah, tidak kalah sibuk dengan Along, sudah siap sedia di depan layar meniru gaya Ibu Hayati, guru Bahasa Melayu, menyebutkan huruf abjad di papan tulis.

Pun, Papa melakukan hal yang sama. Setiap pagi, Papa mengunci ruang kerja dan siap memimpin rapat dari layar laptopnya.

Namun, berbeda dengan Mama dan Amok. Mama masih setia dengan lauk-pauk yang harus dihidangkan di atas meja makan.

Lalu, bagaimana Amok?

Amok sedang beratraksi. Ia menguji kekuatan kedua otot tangannya dengan memanjat kursi, sofa, meja, dan pijakan kaki yang terbuat dari kayu. Hampir semua perabotan di rumah, ia jelajahi sampai tingkat dua tumpukan kardus. 

Amok suka melatih bentuk tulang punggung. Ia merambat setiap sisi tepi meja televisi dan tempat tidur.  Bahkan, kegiatan itu ia buktikan dengan mendorong bangku, galon air minum, dan kotak kardus kosong agar melangkah tegap serta berpijak kuat di lantai.

“Mama, lihat Amok,” teriak Along terkejut melihat Amok bisa berdiri dari posisi jongkoknya.

Amok tertawa, lalu menggoyangkan panggulnya hingga terjatuh kembali.

“Mana?” tanya Mama bernapas cepat karena tidak ingin ketinggalan momen berharga ini.

“Yah, Amok jatuh lagi, deh,” Angah ikut berkomentar melihat kegemparan di dalam ruang keluarga kecil itu.

“Mama telat, sih,” kekeh Along kembali melihat layar komputernya.

Amok tersenyum kemudian mengangkat kedua lengannya berharap ingin digendong oleh Mama.

“Amok bermain sendiri dulu, ya, Mama mau melipat baju Along dan Angah,” jelas Mama.

Walaupun Amok belum bisa berbicara, dalam ocehannya ia jelas tidak suka penolakan. Ia teriak kencang. Mama bergidik mendengarnya.

Begitulah Amok jika melihat Mama di depannya. Ternyata Amok ingin lebih sekedar digendong. Ia mengarahkan tangannya dengan telunjuk mungil gempal itu ke kamar tidur. 

Mama sudah memahaminya. Pukul dua siang setelah jam makan siang, Amok sudah mengantuk. Ia mencari kenikmatan hakikinya, berada dalam dekapan Mama seraya minum ASI.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top