Uncategorized

Buku Hati Kita

Ananda Putri Maharani

“Bagaimana kelasnya, Bang?”

“Seru, Ma. Along suka,” seru Along menyerahkan hasil naskahnya.

“Wah, cepat sekali kamu buatnya,” Mama terkejut melihat karya anaknya. Along jarang membaca buku. Namun, tidak sedikit cerita dalam sel-sel sarafnya dituangkan dalam tulisannya. Kamar tidurnya pun selalu penuh dengan lembaran-lembaran goresan pensil di atasnya. Entah itu cerita atau karakter imajinasinya.

“Boleh Mama baca?” izin Mama.

“Boleh. Eh, nanti saja, Ma. Kan, harus jadi bukunya dulu,” ujar Along menutup kembali tiga lembar naskahnya.

Hampir setiap bulan, Along selalu minta satu pak kertas A4. Awalnya Mama tidak mengerti untuk apa dan selalu beranggapan mubazir. Namun, setelah Along menjelaskan, kegiatannya itu membuat dirinya tenang.

“Oh, jadi Along ingin bercerita, ya,” papar Mama membenarkan dugaannya dengan anggukan.

“Iya, Ma,” akunya.

“Mama juga suka cerita,” ujar Mama menyamakan suara hatinya, “tapi Mama menulisnya bukan di atas lembaran-lembaran kertas kosong.”

“Oh, ya? Di mana, Ma?” tanya Along makin penasaran.

“Namanya Buku Diari,” jelas Mama.

“Wah, Along mau dong dibuatkan buku itu, Ma!” seru Along.

“Ehm …, gimana kalau kita buat Buku Hati itu untuk kita berdua?” saran Mama seraya mengambil gelas. Mama merasakan pembicaraan ini akan panjang.

“Kok?” cetus Along membuat pikirannya tidak diam.

“Nanti buku itu isinya bergantian. Misal hari pertama, Along yang tulis. Lalu, keesokan harinya giliran Mama. Syaratnya hanya satu. Kita menuliskan apa yang kita rasakan pada hari itu,” jelas Mama panjang lebar.

Along mengangguk dengan kerutan pada alisnya.

Mama tersenyum geli melihatnya. 

“Kalau Along mau gambar dibuku itu, boleh?” 

“Boleh, asalakan Along harus menjelaskan arti gambar itu. Gimana?” Mama menanyakan kembali.

“Mau, Ma!! Untuk kita berdua saja, ya,” Along memastikan kembali bahwa buku itu hanya untuk dirinya dan Mama.

“Insyaallah,” janji Mama seraya memeluk erat anaknya.

Seminggu kemudian, Along membaca kembali Buku Diarinya dan Mama. Kok, rasanya tidak pas judulnya, dirinya membatin. Lalu, ia mencoretnya dengan tinta hitam tebal dan mengubahnya menjadi ‘Buku Hati Kita’. 

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top