Uncategorized

Cerita Mama

Ananda Putri Maharani

“Coba, dong, ceritakan masa kecil Mama,” rajuk Along menatap iba Amok yang masih saja menangis.

Mama menepuk lembut punggung Amok sambil mendendangkan salawat Nabi yang biasa Along dengar sedari kecil dulu. 

Suara Mama senada dengan gerimis hujan. Seakan-akan latar suara hujan mengiringi sesuai yang Mama lantunkan itu. Mendengarnya Along menjadi mengantuk. Hal yang sama terjadi pada Amok, tertidur pulas menyenderkan kepalanya di bahu Mama.

“Mama, membaringkan Amok dulu, ya, Nak. Nanti kita cerita-cerita lagi,” ajak Mama dibalas anggukan kepala Along.

Hujan kali ini masih terus membasahi jalan kota. Along melihat beberapa anak sesuianya asyik bermain bola. Mereka tidak mempedulikan terpaan derasnya air pada wajahnya. Adapun percikan air dari langkah mereka pada taman perumahan samping rumahnya, terdengar meneduhkan suasana di teras itu. 

“Yuk, kita lanjutkan lagi,” ujar Mama seraya duduk di bawah bersandar pada pintu kawat nyamuk yang kian rapuh.

Along tersenyum mengangguk setuju.

“Seperti yang Mama ceritakan, semasa Mama kecil, hanya bermain di rumah saja. Mama selalu dilarang oleh Yangkung pergi keluar. Kalau mau keluar, Mama harus menunggu Yangkung,” jelas Mama.

“Terus, Mama tidak marah sama Yangkung?” Along makin heran dengan Mama yang tampak biasa saja.

“Alhamdulillah, Mama tidak masalah. Justru Mama sangat berterima kasih sama Yangkung. Karena Yangkung secara tidak langsung sudah melindungi Mama dari pergaulan yang tidak baik.”

“Bahkan sampai saat SMU dulu, Mama masih dianter jemput oleh Yangkung. Baru saat mulai kuliah, Mama mengambil keputusan untuk kos,” jelas Mama merinci yang telah terjadi.

“Pergaulan yang tidak baik? Itu apaan Mama?” 

“Ehm …, pergaulan yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt. Jadi, selama Mama masih kecil sampai usia SMU, Mama selalu menjaga rumah setiap hari,” tersenyum geli mengingat kejadian yang pernah ia alami itu.

“Lah, berarti Mama pernah jadi penjaga rumah, dong,” goda Along dibalas dengan candaan menggelitik Mama di atas perut Along.

Pun, Along tidak dapat menahan rasa gelinya itu.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top