Uncategorized

Cerita Mama

Ananda Putri Maharani

Beberapa hari ini, hujan turun mengguyuri ibu kota. Semua baju mengantri mendapatkan kehangatan sinar matahari yang belum kunjung datang. Hal yang sama seperti Along, Angah, Amok dan Mama. Mereka selalu berkumpul di teras depan rumah, mengamati rintikan air yang turun atas perintah-Nya. Berbeda dengan Papa yang makin sibuk menyendiri di dalam ruang kerja.

“Ma, dulu waktu kecil Mama sering main hujan-hujanan?” tanya Along memecah keheningan di antara kami.

Mama memutar manik mata hitamnya berusaha menangkap kenangan masa kecilnya bersama hujan, “Seingat Mama tidak pernah,” jawab Mama tidak pasti.

“Hah! Kenapa, Ma? Kan, enak main air hujan!” tegas Along merasa kasihan.

“Semasa kecil, Mama hanya di rumah. Pagi, siang, sore, dan malam. Teman Mama hanya Bibi yang membantu Yangti dan Yangkung,” jelas Mama tersenyum iri pada air hujan yang turun bebas tanpa batas hingga ke dasar tanah. Aroma tanah yang basah menyeruak ke permukaan, menyapa kerinduan arsip kenangan Mama. 

“Kok, gak boleh?” seru Along tak heran kenapa Mama lebih suka berada di rumah daripada keluar rumah.

Mama menghela napas panjang dan lebih dalam. Alasan pastinya, pun, Mama tidak paham. Hanya yangkung yang memberlakukan peraturan seperti itu.

“Entahlah, Nak,” Mama mengangkat bahunya, “mungkin Along bisa tanya langsung ke Yangkung.”

Along mengangguk mengerti. 

“Lalu, apa yang Mama lakukan saja di rumah?” 

“Mama suka membaca komik, bermain boneka, juga menggambar,” ujar Mama, “hanya itu yang paling Mama ingat.”

Mereka terdiam mendengarkan hujan yang masih saja membasahi dedaunan pohon. Jarak pandang makin sulit. Suara gemuruh petir bersautan menakutkan Amok hingga mencari kenyamanan dalam pelukan Mama.

“Itu namanya petir, Amok,” seloroh Angah menarik lengan kecil Amok paksa.

Seketika itu, Amok menangis. Mama menenangkan kembali Amok di dalam pelukannya. Mungkin bukan maksud Angah memaksa Amok. Hanya saja anak usia empat tahun itu masih belajar sensorik dan motoriknya.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top