Uncategorized

Garda Terdepan

Oleh Ananda Putri Maharani

Sudah tengah malam. Ayah belum pulang ke rumah. 

“Maro, sudah malam, lekas tidur! Besok pagi kamu mulai sekolah daring. Nanti telat,” ujar Bunda.

“Aku mau menunggu Ayah,” tukas Maro.

“Ayah hari ini harus keliling desa Sungai Limau dengan Pak Somat, mantri desa. Semenjak Korona merebak di Indonesia, mereka melakukan pemeriksaan usap hidung dan tenggorokan kepada yang dicurigai sakit,” jelas Bunda.

“Tapi, kok, malam-malam, sih? Kan, perjalanan ke sana tidak mudah.” Maro mulai khawatir pada Ayahnya yang bekerja sebagai dokter umum PTT.

Keesokan paginya, Bunda menyiapkan lemang dan rendang. “Apa ini, Bunda?” tanya Mari ingin tahu. 

“Itu buluh bambu untuk membuat lemang,” jawab Bunda

“Bambu yang ada di hutan, ya, Bunda?”

“Betul, buluh bambu ini dibersihkan dulu lalu dipotong 80 cm. Kemudian kita letakkan beras pulut yang sudah dibungkus dengan daun pisang, lalu dibakar, seperti Bunda lakukan tadi di dapur,” jelas Bunda.

“Assalammualaikum, Ayah pulang! Wah, harum sekali pagi ini,” ujar Ayah. 

“Waalaikumussalam,” jawab kami bertiga. “Lekas bersihkan diri dulu, lalu kita sarapan,” tukas Bunda. 

Semua sangat menikmati lemang dan rendang. Masakan khas daerah Sumatera Barat itu habis tak bersisa. Apalagi ditemani dengan secangkir teh manis hangat. 

“Kita semua harus jaga diri baik-baik. Tetap patuhi protokol kesehatan. Sudah semakin banyak yang terinfeksi virus Korona” ujar Ayah.

Maro pernah mendengar dari berita, salah satu cara terhindar dari virus Korona dengan menjaga protokol kesehatan. “Mungkin Ayah harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari, sampai Korona ini terkendali.” Kami diam mendengarkan Ayah. Sebuah resiko yang harus dijalankan oleh tenang medis sebagai garda terdepan.

“Protokol itu apa, Ayah?” tanya Mari. 

“Protokol itu tata cara aturan yang berlaku, seperti menggunakan masker wajah yang benar, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta menghindari kerumunan,” jelas Ayah. 

“Alhamdulillah, kemarin Bunda dan ibu-ibu RT mulai membuat sepuluh masker kain setiap rumah. Ternyata masker juga semakin langka, Yah,” tukas Bunda.

“Berarti aku dan teman-teman tidak bisa bermain bersama lagi?” timpal Maro sedih.

Ayah tersenyum mendengarnya, “Sayangnya harus seperti itu, Nak, karena dengan bermain kita tidak bisa menjaga jarak minimal 2 meter. Untuk sementara, Maro bermain dengan Mari dan Bunda di rumah, ya,” ujar Ayah.

“Memang Ayah tidak pulang nanti?” tanya Maro.

“Iya, sayang. Semua tenaga medis mulai besok harus selalu jaga di Rumah Sakit. Doakan Ayah dan Indonesia agar bisa melewati wabah ini.”

“Amiiin. Ayah juga jaga kesehatan,” ujar Bunda.

“Ayah, lihat! Mari sudah bisa protokol kesehatan!” teriak Mari seraya menggunakan jaket hujan dan helm Bunda jika pergi ke pasar.

Kami semua terbahak-bahak melihatnya.

Maro berjanji di dalam hati akan selalu patuh dan tidak bosan mengingatkan teman-teman jika ada yang melanggar protokol kesehatan.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top