Uncategorized

Hari Istimewa

Ananda Putri Maharani

Liburan tahun baru cina hampir satu pekan. Hampir seluruh sekolah tidak ada kegiatan belajar. Kecuali sekolah Along dan Angah. Mereka wajib menghadiri kelas hapalannya. 

“Along, Angah besok masuk kelas hapalan, kan?” tanya Mama mengingatkan kedua anak laki-lakinya. 

“Kan, besok cuti, Ma,” protes Angah yang sedari tadi menandai kalender dinding di ruang keluarga.

“Betul, Nak. Tapi hanya untuk kelas akademiknya. Angah sama Abang Along tetap masuk kelas hapalan,” jelas Mama penuh dengan senyuman manisnya.

Angah mengerutkan kedua alis dan mengerucutkan mulut mungilnya itu. 

“Tapi, Angah mau main, Ma,” teriak Angah tidak terima.

“Tentu saja, Angah boleh main. Tapi setelah kelas hapalan, ya?” bujuk Mama kepada anak keduanya yang makin pandai menjaga pendiriannya.

“Oke, Ma. Nanti Angah mau gunting-gunting robot, boleh?” tanya Angah.

Mama tersenyum seraya mengangguk.

Angah tampak riang tanda setuju dari Mama. Beberapa hari ini, ia sangat suka sekali dengan kegiatan menggunting. Pernah suatu kali, Angah menggunting rambut adiknya, Amok. Mama hampir ketakutan melihat Amok bukan semata rambutnya terpotong, tetapi sangat berbahaya jika terkena mata atau telinga. Setelah peristiwa itu, Mama selalu mendampingi Angah bermain terutama permainan yang menggunakan alat tajam.

“Tapi Amok tidak sakit,” ujarnya memastikan menggunting rambut Amok tidak salah. Namun, setelah dijelaskan pelan-pelan sampai Angah paham, Mama dan Angah membuat kesepakatan baru. Alhamdulillah, semenjak itu Angah selalu izin kepada Mama bila ingin menggunakan gunting.

Tiba-tiba, Along membisikkan sesuatu ke telinga Mama.

“Apa, Nak? Mama tidak dengar?” 

“Mama, hari ini, kan, hari istimewanya Angah,” bisik Along agak mengeraskan suaranya hingga terdengar Angah.

“Angah ulang tahun, Ma?” tebak Angah yang sudah paham arti berulang tahun dari tontonan favoritnya.

“Betul, Nak. Namun, dalam agama kita tidak ada perayaan dan doa khusus untuk menyambutnya,” jelas Mama.

Tanpa Mama sadari, kedua bola manik cokelat Angah meneteskan air mata hingga membasahi pipi gembilnya itu.

“Eh, Nak, kok, menangis?” tanya Mama memeluk Angah pecah dalam tangisannya.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top