Uncategorized

Hari Istimewa

Ananda Putri Maharani

Setiap pagi pasti sibuk. Di mulai setelah Subuh sampai matahari menampakkan sinar keemasannya.

“Mama, sekarang hari apa?” tanya Along.

“Hari Selasa,” timpal Mama seraya mengiris bawang merah untuk dijadikan pewangi telur dadar.

Along mengerutkan dahinya sehingga kedua alis tebalnya hampir bertabrakan.

“Bukan, Mama. Ini hari apa?” tanya Along kembali sedikit meninggikan pita suaranya.

“Ya, Allah, Nak. Tadi Mama sudah bilang hari Selasa. Kenapa, sih, memangnya?” sergah Mama mulai terasa terganggu dengan pertanyaan Along.

“Masa Mama gak tahu, sih? Kan, sekarang hari istimewa,” teriak Along melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. 

Melihatnya Mama hanya menggelengkan kepalanya karena tidak paham apa yang Along maksud.

Di dalam sudut kamar bercat serba putih itu, Along merasa kesal dengan Mama. Sebelumnya, pun Papa tidak paham juga maksud pertanyaan Along.  Padahal mereka selalu ingat, tetapi kini semuanya telah melupakan hari istimewanya.

“Nak, ayo, sarapan. Nasi gorengnya sudah siap,” panggil Mama menyembulkan kepalanya dari celah pintu kamar Along.

“Iya, nanti,” jawab Along sekenanya.

Mama tersenyum dan memeluk hangat Along yang tahu tengah bersedih akan sesuatu.

“Sepertinya Mama sudah siap mendengarkan apa gerangan di dalam hati ini,” ledek Mama menunjuk tengah dada Along dengan jari telunjuknya.

Manik hitam Along bergerak ke sudut mata seraya menahan senyumnya. 

“Apaan, sih, Mama!” gerutu Along. 

“Ada yang mau diceritain ke Mama, gak?” selidik Mama memindahkan badannya menjauhi Along untuk memastikan warna wajah anaknya.

Along terdiam dan memilin-milin kertas di tangannya.

“Ma …,” rajuk Along.

“Eh, jadi ceritanya?” canda Mama.

“Iya, jadi,” geram Along, “hari ini, kan, aku ulang tahun!”

Seketika Mama terkejut dan berpikir tanggal hari ini.

“Subhanallah, ternyata ada yang mengulang hari lahir, ya,” ujar Mama.

Sejurus kemudian, Papa dan Angah masuk ke kamar dengan membawa satu kotak besar dengan bungkus coklat bertuliskan ‘Along’.

“Wah, apa ini? Untuk Along?” seru Along bahagia. Ia tidak menyangka Mama dan Papa masih ingat hari lahirnya. Ternyata Mama dan Papa memang sengaja menyembunyikannya hadiahnya dari kemarin. Melihatnya, Along merasa tidak enak sudah berpikiran yang tidak-tidak. 

Along membuka kotak itu dan ia mendapatkan apa yang diinginkannya. “Alhamdulillah, makasih, Mama …, Papa …, Along senang sekali,” ujar Along.

“Sama-sama, Sayang,” jawab Mama dan Pap serentak.

“Maafkan Along, ya, tadi sudah bersikap tidak sopan,” sesal Along berhambur memeluk Mama dan Papa.

“Tidak apa, Nak. Sekarang kamu makan, ya, nanti dingin,” ujar Mama.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top