Uncategorized

Keseruan kegiatan RB Literasi IP Asia

Mengingat kembali keseruan di Rumah Belajar Literasi IP Asia, begitu banyak catatan penting yang bisa kita ambil.

Saat itu RB Literasi mengundang narasumber keren sekaligus mumpuni dalam bidangnya. Beliau terkenal dengan novelnya di salah satu platform menulis yang tergolong produktif menghasilkan beberapa judul karya.

Mbak Nesri Baidani kita memanggilnya.


Waktu Produktif Menulis

Ternyata tidak jauh berbeda dari sekian banyaknya teman-teman menulis saat menuangkan ceritanya. Mbak Nesri produktif menulis rata-rata pukul 22.00-00.00 WIB.

Menangkap Ide

Mencari dan menangkap ide, biasanya ditemukan pada kesehariannya. Apalagi ide-ide cerita sering timbul saat kita sedang berkegiatan. Dan, luar biasanya, itu semua terangkum cepat dalam kerangka dan plot ceritanya.

Siapa, sih, yang tidak ingin seperti itu?

Writing Block

Nah, ternyata semua penulis akan mengalami hal yang sama. Cara asyik dari Mbak Nesri adalah dengan mencari waktu khusus. Spesifiknya seperti apa, tergantung masing-masing individu.

Wattpad dan Tere Liye

Kalau ini, saya tempelkan jawaban dari beliau langsung, ya!


Berawal dari anaknya teman saya, penggiat Homeschooling, ia menulis di Wattpad. Lalu saya berpikir seru juga, ya. Akhirnya pada tahun 2006, saya membuat akun Wattpad karena membaca karyanya sekaligus memberikan komentar dan ‘like’. Namun, setelah itu tidak ada kelanjutan. Kemudian saya bergabung di Rumbel Menulis IP. Sejak itu saya menulis kembali di Wattpad. Walaupun sebenarnya tidak ada niat untuk menulis seperti saat ini, ternyata mengasyikkan.
Pada tahun 2018, saya membaca beranda Teh Santi tentang tips Tere Liye membuat satu cerita, yang mana sampai saat ini saya kerjakan sampai sekarang. Mengutip dari beliau, kita harus menulis 1000 kata per hari. Waktu itu saya masih 300 kata per hari dan tidak setiap hari. Kadang-kadang hanya seminggu sekali atau dua hari sekali. Lalu Tere Liye menyadarkan saya, jika mau jadi penulis, ya, harus menulis. Jangan membaca novel saja. Lalu bagaimana membuat novel dengan syarat minimal 30000 kata? Berarti per harinya minimal 1000 kata, otomatis dalam tiga puluh hari sudah menjadi sebuah novel.
Kemudian saya mengikut apa yang dikatakan Tere Liye. Awalnya sangat melelahkan. Alhamdulillah setelah menantang diri sendiri, bisa membuat dua novel ‘Selingkuh dan Selingkuhan’ dan ‘3 Hati, 1 Kata: Cinta’.
Pada hari ke-24 saya berada di titik ‘bermanfaat, kah, saya membuat novel seperti ini?’, tetapi setelah mencapai akhir tiga puluh hari, menamatkan novelnya, saya sadar ternyata bisa. Setelah itu menjadi candu.

Kaidah Penulisan

Lalu, pada saat itu saya pun bertanya langsung kepada beliau. Di simak, ya.

Sebenarnya kalau menulis cerpen menurut pengalaman Mba Nesri, apakah selalu dengan menulis langkah-langkah membuat kerangka ide pada setiap paragrafnya? Karena saat Nanda membuat kerangka tersebut, kok, terasa berat, walaupun ini termasuk cerpen fiksi, ya, Mba. Karena diharapkan tidak keluar dari jalur. Apalagi alangkah lebih baik membuat premis dahulu.

“Jujur, saya pun tidak mengikuti kaidah penulisan cerpen karena hanya 1500 kata, kurang lebih dua jam untuk satu cerpen. Kalau mengerjakan kerangka dulu, waktunya cepat habis. Begitu mempunyai ide, saya langsung menulis kalimat pertamanya. Kemudian lima kalimat lalu paragraf. Apalagi kalau sudah menyelesaikan satu paragraf, biasanya mengalir saja, karena alurnya sudah di dalam kepala kita.
Namun, beda untuk novel. Kerangka maupun premis itu membantu sekali. Pernah suatu kali membuat novel dengan premis yang kurang kuat. Misal premis awalnya ingin membuat cerita seorang anak pesantren yang kehilangan imannya. Lalu dibuat karakternya seperti apa? Bagaimana plot ceritanya setelah ia kehilangan rasa percaya pada Tuhan?
Contohnya pada novel ‘Istriku, Bulan’ hanya berawal premis yang sederhana, sedangkan pada ‘Pacarku Profesional’ yang dicetak menjadi buku, tidak menggunakan kaidah penulisan. Hanya berawal dari cerpen yang saya kembangkan menjadi novel, tidak pula menggunakan kaidah penulisan.
Sebenarnya kembali kepada kenyamanan masing-masing penulisan. Contoh nyata menggunakan kaidah penulisan pada novel ‘Harry Potter’, ‘The Lord of The Ring’, dan Dan Brown hasilnya luar biasa.”

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top