Uncategorized

Keinginan Amok

Ananda Putri Maharani

Azan Subuh berkumandang memanggil seluruh anggota keluarga rumah nomor sebelas itu. Termasuk bayi yang hampir menggenapkan usia dua belas bulan beberapa hari lagi.

“Eh, Amok sudah bangun,” Mama menyapa Amok diantara remangan lampu tidur.

Amok tersenyum dan mengangkat tubuhnya berkali-kali yang hampir berdiri itu. Ia ingin segera digendong dan diajak bermain seperti biasa.

“Sebentar, ya, Nak, Mama mau menyiapkan sarapan dulu. Amok sama Papa, ya,” ujar Mama menyadari raut wajah Amok berubah 180 derajat ketika ditolak.

“Lho! Kok, mau menangis? Ya, sudah, Amok digendong Mama tapi gendong belakang, ya!” tawaran Mama langsung diterima dengan senyuman manisnya.

Sebelum melangkah keluar, Mama mengganti popok Amok yang sudah penuh itu. Dan, segera mengambil gendongan andalan Mama dan Amok. 

Mama memposisikan Amok berada di punggungnya. Selain, Amok sangat suka digendong dipunggung Mama, cara ini membuat Mama lebih leluasa beraktivitas terutama saat menyapu dan mengepel rumah.

Amok sangat menikmati sekali. Ia memperhatikan gerak-gerik Mama saat berbenah rumah dan masak di dapur. Kepalanya selalu menyembul disisi lengan kanan atau kiri Mama yang empuk itu. 

Hanya saja, Mama tampak kesusahan ketika harus menggoreng ikan atau nasi goreng. Amok begitu antusias ketika suara percikan minyak goreng meletup. Kadang Mama dibuat kepayahan kalau Amok ingin tahu sesuatu.

Begitu juga saat mencuci piring. Kedua kakinya bermain mengayunkan ke depan dan belakang akibat air cucian mengenainya.

“Ma …, Ma …, Ma …, Ma …,” celoteh Amok memberikan petunjuk kepada Mama dengan jari mungilnya itu.

“Amok mau minum?” tanya Mama membaca arah jari telunjuk Amok.

Kemudian, Mama menuangkan air putih ke dalam gelas berwarna pink.

“Nih, minumnya. Baca Bismillah, ya,” Mama mengarahkan Amok minum secara perlahan-lahan. 

Amok tampak kehausan. Ternyata Mama lupa menarik gelas itu dibarengi Amok mengambil napasnya. 

Lalu, Amok batuk-batuk dan mukanya merah seperti kesusahan bernapas.

“Astaghfirullah!” Segera Mama melepaskan gendongannya dan menepuk punggung Amok secara perlahan tetapi mantap.

“Maaf, ya, Nak, Mama tidak berhati-hati,” rintih Mama menyesali tidak memperhatikan Amok minum.

Namun, Amok tetap ingat kegemarannya, minta kembali digendong dipunggung Mama.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top