Lemari Buku

Kembali Kepada Fitrah

tumblr_mix8lckuH21s772mko1_500


Bismillah..

Judul ini sengaja saya buat setelah menerima tugas NHW yang keempat. Fitrah. Hal dasar yang sering saya lupakan. Banyaknya input-input dari luar membuat fitrah kita sesungguhnya dilupakan. Sebelum saya menyentuh fitrah kedua anak-anak saya, kini saya harus membuka tabir yang selama ini saya tutup rapat. Bersahabat dengan innerchild dan menyingkirkan segala kecemasan serta kegalauan agar semakin jelas, kearah mana saya harus melangkah.

Menelusuri NHW#1..

Setelah saya membaca kembali, saya semakin yakin bahwa selama ini saya selalu mengabaikan suara hati yang sesungguhnya. Seringkali saya ragu terhadap diri sendiri dan menjadikan orang lain sebagai patokan kesuksesan. Hal ini mengakibatkan dampak yang besar kepada anak-anak dirumah. Padahal saya lupa akan fitrah saya sesungguhnya, yakni seorang ibu. Bentuk fitrah saya sebagai ibu sudah dipilih hanya untuk anak-anak saya dan fitrah saya sebagai istri sudah dipilih hanya untuk suami saya. Bukan yang lain. Dan cara mencapai fitrah yang sesungguhnya adalah kembali ke KM-0 dengan memaafkan diri sendiri dan memaafkan innerchild saya. Saya yakin kita tidak dapat menghapus innerchild yang ada, bukan untuk dimusuhi tapi seharusnya yang saya lakukan dari dulu adalah bersahabat dengannya, menggenggam erat dan membawa serta. Karenanyalah saya ada disini dan terbentuk seperti ini.

Apakah saya harus mengubah jurusan ilmu yang sudah saya pilih sebelumnya? Tentu saja tidak. Insyaa Allah mulai sekarang saya serahkan hati saya ini sepenuhnya kepada-Nya. Tanpa-Nya saya hanya segelondong kayu yang lapuk.

Checklist NHW#2..

Alhamdulillah masih banyak yang kosong dan bolongnya..*lho?! Hehehe dan belum ditempel didepan pintu lemari pakaian. Hadeeehh. Baiklaahh..hayoo nanda kerjakan..kerjakan..kerjakan..*tepuktepukpipi

Jika dilihat lagi belum ada yang perlu ditambahkan kembali. Bolehlah menukil quotes dari RSCM:

Write What You Do And Do What You Write”.

Gak boleh ada galau-galau lagi. Hilangkan rasa malas dan bersahabat dengan diri sendiri. Tidak boleh tengok sana, tengok sini. Saatnya untuk memantaskan diri sebagai seorang ibu, istri dan wanita yang sholehah.

Menyelami NHW#3..

Sejak saya memilih fakultas kedokteran, saya sadar bahwa kedepannya diri saya ini bukan hanya milik keluarga tapi masyarakat. Tapi sejak menikah, gambaran kehidupan yang saya jalani berubah total. Membagi waktu dan pikiran selalu berkecamuk dalam diri          saya. Keluarga selalu saya jadikan korban tunggal. Tidak bisa menjadi seorang istri, ibu dan dokter dalam satu waktu. Tapi sejak saya mengikuti IIP, perlahan-lahan saya melihat, bahwa itu salah. Kata siapa tidak bisa. Yes, kita adalah super woman. Calon Ibu professional. We can do everything in one time. Hehehe. Saya bisa memposisikan sebagai ibu sekaligus dokter ketika anak-anak sakit. Bisa memposisikan seorang ibu dikala pasien bayi atau anak datang berobat kepada saya. Walaupun mungkin someday saya resign dari tempat saya bekerja,  minimal saya selalu menjadi dokter untuk keluarga kecil saya. Itu cita-cita saya sesungguhnya. Dokter untuk keluarga.

Yup inilah jalan yang Allah pilihkan untuk saya. Kali ini setiap langkah yang saya ambil harus bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak, minimal untuk keluarga dan lingkungan rumah.

Misi Hidup: Memberikan manfaat untuk umat manusia

Pas. Sesuai dengan checklist yang saya buat 2 minggu lalu. Membuat tulisan yang bermanfaat. Kali ini akan saya gunakan media yang ada. Tidak boleh alay-alay lagi. Bisa facebook, Instagram atau wordpress, namun kali ini saya akan lebih memilih wordpress. Biar penuh dan banyak isinya. Hahaha. MO to the DUS a.k.a MODUS.

Bidang: Kesehatan Ibu, Anak dan Keluarga

Kesehatan yang ditekankan sebenarnya sangat luas. Bukan dari segi medis saja, tapi bisa dari jiwa atau hati. Selama saya dituntut menjadi dokter, saya tidak hanya mengobati pasien itu sendiri, tapi seluruh keluarga yang tinggal bersama dengan pasien. Dukungan moril dari keluarga sangat diperlukan untuk mencapai kesembuhan pasien yang optimal. Jadi yaah begitulah..terapi komprehensif.

Selama bersinggungan dengan kesehatan jiwa/hati, sering kali saya lupa ada obat dari segala obat, yakni Al-Qur’an. Jadi untuk mendukung bidang yang saya pilih ini, perlahan tapi pasti, Insyaa Allah, dengan ijin-Nya saya mulai selalu istiqomah mentadaburrinya. Dengan tilawah Al-Quran dan membaca terjemahannya adalah cara yang paling mudah bisa saya jalankan. Padahal hal ini sudah saya cantumkan dalam checklist NHW#2 lalu. Ckckck. Kerjakan..kerjakan..kerjakaann…

Peran: Konselor

Sampai detik ini saya tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa saya sebagai dokter, profesi kemanusiaan. Hati nurani terpanggil untuk menolong jika ada yang kesulitan. Awalnya memang sulit dikala saya harus menggandeng profesi sebagai dokter dan seorang ibu dirumah. Ternyata selama ini saya hanya kehilangan petunjuk kemana saya harus melangkah.

Inti yang bisa saya ambil beberapa minggu ini adalah kembali kepada fitrah. Saya pikir hanya fitrah anak saja, ternyata fitrah kita sebagai ibu untuk anak-anak, istri yang sholehah untuk suami dan wanita sholehah dikala ia jauh dari suami yang selalu menjaga kehormatannya. Profesi dokter hanyalah salah satu pakaian yang bisa saya kenakan kapan saja. Untuk menentukan KM 0 saya merasa kesulitan. Tapi setelah merenungi kalimat KM-0, saya lupa, lupa melepas jubah keegoisan, jubah urusan kecemasan, jubah kegalauan dan jubah kegelisahan.


KM 0-12  :

 “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan seluruh alam…”

Diawali dari KM 0-12 dengan pendidikan diri sendiri. Tidak menghiraukan pendapat orang lain.  Yakin 100% bahwa Allah Subhanallohu wa ta’alla selalu bersama kita. Kurun waktu dalam 6 bulan menurut saya cukup untuk memulai kembali, kepada fitrah. Fitrah saya sebagai ibu, istri dan wanita. Saat inilah saya serahkan semuanya hanya pada-Nya. Lupakan semua urusan, dimana proposal langit sudah saya ajukan. Mulai mencari ilmu penguasaan diri, manajemen waktu dan pengendalian emosi berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

KM 12-24 :

Setelah kita sudah kembali kepada fitrahnya di KM 0-12, dua belas bulan berikutnya masuk kedalam tahap pendidikan Islamic parenting. Sebagai muslim adalah kewajiban kita untuk mengikuti petunjuk Nabi di setiap segi kehidupan kita. Terlebih tentang tata cara mendidik anak.

Kita semua pasti setuju bahwa keteladanan kunci sukses dalam mendidik anak. Dimana keteladanan ini perlu suatu penjelasan, arahan dan pemahaman. Inti dari Islamic parenting ini adalah menanamkan AQIDAH kepada anak-anak dirumah. Sebab, bagaimana pun syariat Islam (yang ada pada Al-Qur’an, hadist/Sunnah) itu adalah “induk” dari setiap ilmu. Ditahap inilah cikal bakal menggali semua potensi anak-anak dirumah. Sebelum mengenalkan pada ilmu yang sesungguhnya, potensi-potensi yang ada harus dibekali dengan rasa cinta dan takut hanya kepada-Nya.

Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”. 

Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, juz 6, hal. 398 dari Ibn abbas)

Walaupun hanya sampai KM 24, masihlah sangat jauh bahkan berkilo-kilo lagi untuk mencapai makna yang sebenarnya. Minimal saya menyadari fitrah kita yang sesungguhnya. Insyaa Allah. Untuk inilah saya hidup dan dipertemukan dengan suami dan anak-anak. Bismillah untuk semuanya. Saling mendoakan agar kita semua berhasil menjadi ibu kebanggaan keluarga dan istri yang sholehah. Aamiin.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top