Uncategorized

Keresahan Along

Oleh Ananda Putri Maharani

“Mama mau mengerjakan tugas dulu, ya, nak!” 

“Tugas apa lagi, sih, Ma? Banyak banget tugasnya!” gerutu Along melihat Mama yang makin kian sibuk dan sering tidur malam.

“Mama sedang belajar Bahasa Arab, Menulis dan Menggambar,” jelas Mama tanpa memedulikan keluhan Along di sampingnya, “kamu tidur sana, sudah malam.”

Beberapa hari ini Mama jarang membacakan buku menjelang kami tidur malam. Berbagai alasannya, Along menduga Mama tidak sayang kepadanya dan kedua adiknya. Meskipun Mama masih masak makanan kesukaannya, tetapi kebersamaan Along dengan Mama lebih terbatas.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, Along masih duduk termenung di dalam kamar tidurnya. Mama melihat sinar menembus pintu kamar Along.

“Lho, kok, Along belum tidur?” Kepala Mama menyembul di samping pintu kamar Along.

“Along enggak bisa tidur. Along terpikir sesuatu, Ma,” ujar Along memainkan pensil kesayangannya.

“Boleh Mama tahu apa yang Along pikirkan itu?” tanya Mama duduk disamping Along.

“Along pikir Mama sudah tidak sayang lagi sama Along. Sekarang Mama sibuk,” resah Along terhadap apa yang ia pikir dan rasakan.

Mama tersenyum dan memeluk Along. 

“Menurut Along, agar Along tidak terpikir lagi, Mama harus bagaimana?” timpal Mama semakin mengeratkan pelukannya. 

Along tahu Mama tidak mungkin tidak sayang kepadanya. Ia hanya ingin Mama selalu membacakan cerita dan pijat kedua kakinya. Karenanya Along merasa nyaman dan tenang.

“Along ingin Mama bacain buku dan pijat kaki lagi,” jawab Along dibalas kecupan pada dahinya.

“Masyaallah Tabarakallah, jadi Along resah karena Mama sibuk, ya?” balas Mama menjawil pipi gembul Along.

“Iya, hehehe ….” 

“Ehm …, bukan Mama tidak mau dan semakin sibuk dengan tugas Mama. Tapi, Mama melihat Along sudah satu minggu berani tidur sendiri. Tidak minta ditemani seperti sebelumnya. Mama tahu Along pasti sedang berusaha untuk mandiri,” jelas Mama.

“Jadi, Mama masih sayang sama Along?” ragu Along dengan pertanyaannya.

“Tentu saja, Mama sayang sama Along. Malah, Mama semakin bangga dengan Along sudah mau dan bisa tidur sendiri,” senyum Mama menghias wajahnya.

“Terima kasih, Mama. Along jadi lebih tenang sekarang. Tetapi boleh, ya, kalau Along rindu dengan cerita dan pijatan Mama?” kekeh Along.

“Insyaallah, boleh.”

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top