Uncategorized

Kesunyian Malam

Ananda Putri Maharani

Suhu dingin bulan Februari makin memuncak pada pertengahan malam. Along tidak dapat menahan diri ketika hujan deras membasahi kaca jendelanya. Dalam diam, ia menarik selimutnya, berharap malam ini segera berakhir. Sekujur tubuh yang gempal itu mulai dipenuhi bercak merah. Ia merintih berusaha untuk tidak menggaruknya.

Beberapa jam nanti, ia harus menghadapi ujian semester akhir. Bahasa Arab, Matematika dan Akhlak. Namun, keadaan tubuhnya meminta lain. Ia, mungkin karena tidak dapat menahan rasa gatalnya, tidak dapat turut berjuang penentuan masa depannya bersama teman-temannya.

Tanpa ia sadari, manik mata cokelat itu sudah membasahi kedua pipi gembilnya. Ia ingin berhasil dan lulus dengan nilai yang terbaik. Hanya saja Mama memaksakan untuk mementingkan kesehatan dibandingkan ujian itu.

Keesokan paginya, Along masih menatap nanar langit-langit kamarnya. Matanya yang sedari malam tidak bisa diajak kerja sama untuk membawanya ke alam mimpi. Ia masih terjaga ketika ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.

“Nak, sudah bangun?” panggil Mama membuka pintu perlahan-lahan, “salah Subuh, ya.”

Along menganggukkan kepalanya. Ia tahu sudah azan. Hanya saja, ia ingin sekali memenjamkan matanya sebentar saja. Walaupun itu hanyalah mimpi Kini, ia hanya ingin segera bercerita kepada Allah Swt. pencipta alam semesta.

Along masih merasakan gatal yang hebat. Ia mencoba membasuh kedua tangannya berharap mengusir penderitannya itu. Seketika air wudu itu berhasil menyentuh kedua tangannya, ia seperti mendapatkan ketenangan dan melupakan yang ia rasakan. 

Apakah ini yang namanya keberkahan? Pikirnya. 

Along ingin segera mandi pagi dan merasakan kesegaran menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, lagi-lagi ia harus mengusir jauh pikiran itu setelah Mama melarangnya untuk mandi. 

Along berkaca pada pengalaman sebelumnya. Ia memaksakan diri untuk mandi di saat serangan kulitnya. Namun, bukannya mengakhirinya, malah menjadi semakin gatal dan tidak tertahannya. 

Along tersenyum mengingat kejadian konyol itu. Namun, ia merasa lebih konyol lagi bila melanggar kali kedua mamanya. Tentu, mama sudah berusaha mencari pengobatan terbaik untuk. Along hanya menurut dan berpasrah. 

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top