Uncategorized

Melanggar Aturan

Ananda Putri Maharani

Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Suasana hening menyelimuti sepanjang jalan komplek perumahan itu. Namun, masih ada yang tampak berbeda. Rumah minimalis bernomor sebelas itu masih terdengar suara percakapan Along dan Angah.

“Angah, lihat, Abang dapat hadiah,” seru Along bangga memperlihatkan pencapaian cemerlangnya.

“Hadiah apa?” tanya Angah tak kalah serunya melongok ke layar telepon genggam Along.

Along dan Angah mendapatkan kesempatan bermain dengan gawai pada jadwal yang sudah disepakati bersama. Sayangnya, malam ini mereka diam-diam di dalam kamar sudah mendahului perjanjian yang sudah dibuat. Alias melanggar peraturan. 

“Sstt, ini lihat!” bisik Along mengecilkan volume suaranya.

“Mana, sih?” sergah Angah tak sabar.

Along Angah makin asyik tenggelam pada layar gawainya. Padahal tanpa mereka sadari, Mama sudah berdiri di depan pintu kamar Along dan mendengarkan percakapan mereka semenjak sepuluh menit yang lalu.

Mama tersenyum geli menangkap suara Along dan Angah.

Sejurus kemudian, Along mendengar ketukan pelan dari arah pintu kamarnya.

“Angah, ada yang ketuk pintu. Cepat! Sembunyikan handphonenya,” sergah Along mengambil paksa gawai yang berada dalam genggaman Angah. 

“Ayo, Bang, cepetan tidur,” ajak Angah membentangkan selimut biru hangat menutupi tubuhnya.

Along melihat tidak sampai ketukan yang ketiga, pintu kamarnya terbuka perlahan-lahan. Ada pendarahan cahaya lampu dapur masuk ke kamarnya. Ia tidak bisa melihat jelas siapa yang menyembulkan kepala dari celah pintu kamarnya.

Namun, dari bayangannya, Along yakin itu Mama.

“Belum tidur?” tanya Mama mengharapkan suatu jawaban.

Along dan Angah terdiam pura-pura tidur.

“Mama ada es krim, siapa yang mau?” ajak Mama tepat seusai dugaan pancingannya berhasil.

“Akuuu,” teriak Angah disusul Along hampir bersamaan.

“Alhamdulillah ternyata masih bangun,” ujar Mama.

Along menggiring Angah, satu-satunya adik laki-laki yang ia punya, mengikuti Mama. Mereka melihat Papa sudah duduk dan mencicipi es krim cokelat.

“Ih, Papa curang sudah makan es krim,” gerutu Along melihat wadah es krimnya.

“Curang? Kira-kira siapa yang curang, ya, ada yang sudah bermain telepong sebelum waktunya,” goda Papa seraya melirik Mama untuk memberikan aba-aba.

“Eh-oh …, itu-anu,” bingung Along terkejut.

“Main apa tadi?” tanya Mama.

Along terdiam malu.

“Kok, diam? Kan, Mama bertanya,” Mama menggenggam tangan Along ingin memastikan semuanya tampak biasa. 

“Maaf, Ma, Along sudah melanggar peraturan,” sambung Along.

“Angah juga salah, Ma,” timpal Angah.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top