Uncategorized

Membaca Hati Mama

Ananda Putri Maharani

Beberapa hari ini, Along melihat Mama sangat murung. Sering kali Along bertanya mendapatkan jawaban yang singkat. Ia mencari tahu pada Papanya, pun sama tidak tahu.

“Mama …, mama marah sama Along?” tanya Along hati-hati takut menyinggung hati Mama.

Mama melihat Along lalu kembali pada layar laptopnya.

“Tidak marah,” jawab Mama sekenanya.

Lalu, tatkala Along ingin bertanya lagi, Amok bangun dari tidur siangnya. Mama bangun dari tempatnya dan menimang Amok agar tenang kembali.

“Ma …,” ragu Along kali kedua. Ia memeluk punggung Mamanya. Empuk dan hangat pikirnya.

“Kenapa, Nak?” sahut Mama seraya bersenandung Salawat.

Along terdiam lama. Ia turut hanyut dalam lantunan suara Mama yang baginya menyejukkan. Sungguh ia pun rindu suara Mama, bahkan dalam marahnya jua.

Akhirnya Along melepaskan lengannya dan keluar dari kamar Amok. Ia teringat suatu peristiwa yang membuat Mamanya seperti itu.

“Papa …,” Along mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari dalam ruang kerja Papa.

“Iya, Nak. Kenapa? Papa ada rapat sebentar lagi,” pungkas Papa melepaskan penyuara jemala.

“Along tahu kenapa Mama diam saja!” terang Along melesat masuk ruang kerja Papa tanpa permisi terlebih dahulu. 

“Kenapa?” Papa terheran dengan anaknya yang hari ini menggunakan kaos berwarna kuning cerah.

“Pasti Mama kecapaian, Pa, coba, deh, Papa kasih pijat kakinya Mama,” saran Along.

Papa tertawa terbahak. 

“Benarkah, itu, Nak?” tanya Papa menahan rasa geli pada perutnya.

“Iya! Papa, sih, tidak tahu. Soalnya saat Along peluk Mama, suara Mama jadi lebih lembut. Pasti Mama lagi pengen diperhatikan,” ujar Along.

“Benar juga, ya, Nak,” senyum Papa memikirkan ide dalam benak Along.

“Nih, Papa sekarang rapat saja dulu, Along mau pijetin Mama. Pasti Mama akan senyum lagi.”

Lalu, Along kembali masuk ke dalam kamar Amok. Ia menyisir setiap sudut dinding kamar dan melihat Mama tertidur seraya mendekap Amok. Di sampingnya Angah turut pulas tertelungkup.

Pelan-pelan Along memijat badan kaki kanan Mama. Belum sampai lima menit, Mama terbangun dan melihat Along menggerakkan kedua lengannya menekan bagian betis Mama.

“Masyaallah Tabarakallah,” Mama berbisik lembut.

“Mama tidur saja, Along pijat kaki Mama, ya,” saran Along tersenyum. 

“Terima kasih, Nak,” senyum Mama kembali pada alam mimpinya.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top