Uncategorized

Menyerah bukan Pilihan

Ananda Putri Maharani

Teman-teman, pernah, kah, dalam sekali seumur hidup kita rasanya ingin menyerah pada suatu hal? Hanya sejenak menikmati kesendiran, dan kesenangan semata.

Pernah? Pun, Teman-teman tidak sendiri. Ada saya yang menemani.

Lalu, jika itu terjadi sekarang, apa yang Teman-teman lakukan? Berpikir sejenak untuk memutuskan menyerah atau terus semangat berjuang? Dijawabnya di dalam benak masing-masing saja, ya! 

Yuk, kita lanjutkan! 

Setelah kita memutuskan salah satunya, sudahkah rencana terstruktur dibuat sedemikan rupa? Atau, ya, nikmati saja?

Baik, semisal kita memilih untuk menyerah. Menyerah karena diri ini sudah terlampau lelah dengan begitu banyaknya rutinitas yang ‘itu-itu’ saja, atau ingin menikmati kesenangan seperti jalan-jalan, menonton film, baca buku dan sebagainya.

Namun, tatkala rasa menyerah itu terjadi, dan sudah melakukan semuanya, lalu apakah kita dijamin puas dan bisa membangkitkan rasa semangat sedia kala?

Hmm? Mungkin di dalam benak ada yang menjawab ‘Iya’ atau ‘Tidak’.  Adakalanya kita bisa melihat dari sisi seberang. Sederhananya kita melepas kepenatan dan istirahat sejenak. Mungkin kata-kata itu lebih bijak untuk didengar.

Godaan untuk menyerah lebih besar. Ingin berhenti dengan meninggalkan semuanya, tentu saja kita harus pandai menyiasatinya. Bahkan bukan saja diri yang dikorbankan, tetapi orang lain juga.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? 

1. Perbaiki Niat.

Percayalah, semua berawal dari niat. Ketika niat sudah diazamkan, kata menyerah bukan termasuk dalam daftar kita.

Dengan memperbaiki niat kita, menilai yang sudah terjadi, insyaallah kepenatan yang datang silih berganti bisa kita hindarkan.

Sudah, kah, merevisi niat kita?

2. Bersyukur

Siapa yang luput dari rasa bersyukur? Atau belum tahu kepada siapa kita harus bersyukur? Bahkan tidak tahu cara bersyukur seperti apa?

Kita jawab satu-satu, ya, pertanyaannya. Pertama, kita tentu sudah tahu jawabannya. Betul sekali. Manusia. Walaupun Allah Swt. sudah menciptakan manusia sedemikian rupa, tetapi manusia itu tempatnya lupa. 

Lalu, yang kedua. Kepada siapa kita harus bersyukur? Tentu saja kepada yang menciptakan langit dan bumi, serta segala isinya. Kadang kita baru bersyukur jika ada hal yang istimewa saja. Bukan dimulai dari hal yang kecil.

Bagaimana caranya? 

Ini kembali pada yang memiliki segalanya. Bukan seseorang yang menberikan uang saja.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top