Uncategorized

Pecahan Kaca

Ananda Putri Maharani

Suara pecahan kaca menyelimuti seluruh ruang keluarga. Along, Mama, dan Papa bergegas keluar dari kamar menghampiri suara keras itu. 

“Ada yang pecah,” gumam Along melihat seluruh ruang keluarga seperti kapal pecah, penuh dengan mainan Amok.

Ada rangkaian kereta Biru karakter terkenal itu buyar bersamaan pohon-pohon kecil yang tumbang. Lalu di depannya, ada genangan air membanjiri rel kereta berbentuk lingkaran. Tidak jauh dari kereta itu, ada cipratan air membekas di dinding sofa kesayangan Mama. 

Amok berdiri diam mematung tidak bergerak. Ia menatap manik mata milik Along kemudian Mama dan Papa. Baju pink bergambar gajah itu kuyup melekat pada tubuh gembulnya. Pecahan kaca berhamburan di depan kaki Amok. 

Kini, suara tangisan Amok menggema seluruh ruang keluarga. Ia melaung kesakitan ketika melangkah menghampiri Mama. 

Tetesan darah sudah menitikkan dari ujung tumitnya. Mama menggendong Amok seraya memastikan tumit kakinya terhindar dari pecahan kaca.

“Bahaya, ya, Pa,” ujar Along mengambil pelan-pelan serpihan kaca berukuran besar. 

Papa mengangguk menyetujui Along yang sudah semakin besar itu. Lalu, Papa menyapu dan mengelap lantai penuh kaca dengan sapu dan pengki. Ternyata ada begitu banyak serpihan kaca bertebaran. Papa berpindah ke samping kanan sofa, sesuai dugaannya masih ada kaca gelas itu.

“Kira-kira, Amok, kenapa, ya, Pa?” seloroh Along mengikat kantong plastik berisi pecahan-pecahan kaca itu. 

Papa mengangkat kedua bahunya masih fokus memungut pecahan kaca yang sulit disapu itu.

“Jangan-jangan Amok marah, ya, Pa? Ia kesal karena tidak ada yang menemaninya,” simpul Along menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Along menghembuskan napas berat dua kali. Ia belum bisa menemukan jawaban penyebab kejadian pagi ini. 

Rumah terasa kembali senyap, suara tangisan Amok seperti tenggelam dalam kesunyian. Along menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Mama. Ia mengetuk pelan terdengar sayu dari dalam. Along khawatir membangunkan adik perempuan satu-satunya itu.

Tidak ada jawaban.

Along kembali ragu. Ia menunggu di luar pintu, tiba-tiba Mama membuka pelan-pelan dan menutup bibirnya dengan telunjuk kurusnya.

“Amok sudah tidur,” bisik Mama dibalas anggukkan Along.

(Bersambung)

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top