Uncategorized

Pertengkaran Pertama

Oleh Ananda Putri Maharani

“Angaaah …, jangan ambil!” bentak Along seraya merebut kembali pensil warna dari tangan kecil Angah.

Liburan akhir tahun, Along dan keluarganya masih memilih untuk di rumah. Pandemi di tahun pertamanya, belum bisa mengembalikan impian Along untuk pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan saudara-saudaranya.

Along masih bisa memahaminya, tetapi beda dengan Angah, adik pertamanya, yang mulai merasa bosan di rumah. 

“Angah mau pinjam pensil warnanya,” balas Angah tak mau kalah mengeraskan suaranya.

“Iya, tapi Along sedang pakai, kamu cari warna yang lainnya saja!” bentak Along bagaikan berbicara dengan seseorang berjarak 1 Kilometer.

Tiba-tiba, Angah mengeluarkan usaha terakhir. Derai air matanya jatuh membasahi seluruh wajahnya.

“Along, jahaaat!!” 

“Kamu kenapa, sih, ganggu Along terus? Along mau gambar,” tanya Along menghentikan seluruh kegiatannya. Ia bingung menghadapi sikap adiknya akhir-akhir ini.

Ke mana pun ia mencari kesibukan di rumah, Angah pasti mengikutinya. Padahal Mama juga tidak kalah kreatif mencari ide bermain untuk Angah dan Amok. Namun, Along merasa kesal jika diganggu bila sedang fokus apa yang sedang ia lakukan.

“Angah mau main sama Along,” isak Angah mengusap lendir hidungnya, “Angah suka Along.” 

Along tersenyum mendengarnya. Walaupun, ia tidak sering mengungkapkan perasaannya, selain malu mungkin bingung dan tampak kaku bagaimana diucapkan. ‘Along juga suka dan makin sayang sama Angah’ ia membatin. 

“Sudah, nih, Along kasih pinjam pinsil warna Birunya.” Along menyerahkan pinsil warna yang semenjak tadi diributkan. Lalu, ia akan menggunakan warna lain pikirnya. 

“Gak mau! Along bikinin Thomas Train juga,” pinta Angah.

“Along juga mau gambar, Ngah!” kesal Along hampir meninggikan suaranya.

“Gaaakk!!” geram Angah menahan kali kedua buliran air dari kedua mata bulatnya itu.

Along seperti tidak ada pilihan lain. Mama pun tidak bisa sepenuhnya bermain dengan Angah. Selain memasak, membersihkan rumah dan merapikan pakaian, Mama lebih sering fokus kepada Amok yang semakin aktif dan banyak maunya di usia hampir satu tahun.

“Oke, setelah Along bikin Thomas, Along mau gambar, ya?” tanya Along berhati-hati tidak mau mengecewakan adik kesayangannya itu.

“Oke. Angah mau, ya. Terima kasih, Along,” Angah memberikan senyum terbaiknya.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

One thought on “Pertengkaran Pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top