Uncategorized

Pilar Gemar Rapi

Pilar Gemar Rapi

Bismillah

1. a. Apakah anggota keluarga Anda sepakat dengan prinsip pilar pertama?
Ya

Saat ini jumlah anggota keluarga kami ada empat orang. Suami, saya sendiri dan dua anak (8 tahun dan 2,5 tahun). Kesepakatan terjadi di antara kami bertiga saja, namun tidak untuk anak kami yang terkecil. Setelah meyakini bahwa pilar pertama dari metode Gemar Rapi, yaitu ‘Dilakukan Oleh Pemilik Barang (Owner)’ dan untuk memudahkan kami kelak, alhamdulilah dapat kami buat seperti tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Kesepakatan

b. Lalu setelah menyepakati pilar permata dari Gemar Rapi, upaya yang dilakukan jika salah satu anggota keluarga sibuk dan tidak berminat untuk berbenah, untuk sementara ini bisa dibuat tabel seperti di bawah ini:

Tabel 1.2 Upaya-upaya yang dilakukan

2. Pola pikir lama versus pola pikir baru
Ada beberapa perubahan mindset kami yang harus diubah. Yang awalnya hanya ‘yang penting rapi’ setelah memahami pilar Gemar Rapi ternyata tidak hanya sampai sekedar rapi saja. Untuk merubahnya membutuhkan proses dan adaptasi. Pola asuhan dan budaya sedari kecil begitu sangat mempengaruhi kami dalam berbenah rumah. Terutama adanya perbedaan yang terjadi. Namun, kami mau belajar ke arah yang lebih baik lagi, salah satunya adalah dengan merubah mindset.

Tabel 2. Mindset

3. Perubahan kebiasaan

Di masa awal ini, kami di rumah masih membiasakan dengan ‘meletakkan dan merapihkan kembali barang setelah terpakai’. Dengan mencoba menerapkan dari diri kami sendiri sebagai orang tua agar menjadi tauladan yang baik untuk anak-anak kami di rumah. 

Dalam berproses berbenah, kami selalu terus mencoba melibatkan anak-anak dan tentu saja menggunakan cara yang menyenangkan. Tidak dengan bentakan dan labeling. Agar gemar rapi menjadi tujuan hidup sedari kecil. 

4. Memahami Lagom

Menyamakan persepsi ‘cukup/pas’ antara kami di rumah bukan hal yang mudah. Dengan karakterisktik sifat dan sikap sungguh di awal acap kali membuat kami kelelahan dalam berbenah rumah. Cukup bagi suami, belum tentu cukup bagi saya, seorang istri/ibu. Namun apakah itu harus dibiarkan begitu saja? Tentu saja tidak.

Mengutip dari materi Gemar Rapi, bahwa Lagom itu adalah sebuah istilah Swedia yang dapat menggambarkan kondisi cukup/pas. 

“ Not too little, not too much. Just Right.”

(Adv)|Sweedish

Istilah tersebut membantu proses dalam declutter (pengurangan barang). Namun untuk memudahkan kami dalam decluttering, kami memilih contoh tauladan kami, Rasulullah s.a.w. Kesederhanaanya dan tidak silau akan dunia, adalah dengan sikap yang mengedepankan kebijaksanaan dalam memenuhi kebutuhan hidup, tidak berlebihan, atau menghamba materi. Dengan itu, kami dapat memilah mana yang harus menjadi prioritas, baik perhatian, tenaga maupun harta. 

Alhamdulillah. Semoga bermanfaat.

#umakhisyam
#umakberkisah
#Task2GP
#gemaripratama2
#angkatan2
#GP2kelas1
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#berbenahalaIndonesia
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemaritu


Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top