Mother's life

Profesi Kita. Profesi Saya. Profesi Ibu.

Sengaja memilih judul tersebut sebagai judul tugas rumah belajar literasi IP ASIA dengsn bertemakan “Profesi Kita”. Saat ditentukan tema tersebut pikiran langsung tertuju ke profesi seorang Ibu. Ibu Rumah Tangga. Seorang ibu suri rumah dalam bahasa melayu nya. Dimana fitrah sesungguhnya bahwa semua wanita itu memang seorang ibu.

Ide tulisan yang dibuat begitu banyak hingga tak sanggup mana yang harus dipilih. Lalu mencari waktu untuk berpikir agar bisa pas saat menyerahkan tugas ini.

Tema ini mengajak saya me-rewind kembali saat memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga. Tanpa tahu dan membawa bekal ilmu tentang parenting, hanya lillahi Ta’ala. Saat itu adalah hal yang paling tergila (mungkin) yang pernah saya putuskan. Seorang wanita yang terbiasa ritme teratur dan bekerja seperti berpindah ke posisi yang sama sekali belum pernah saya pelajari dan praktekkan sebelumnya. Namun tidak utk menjadi seorang Ibu. Yaa Allah..

Mari saya ajak mundur tiga tahun ke belakang sebelum memutuskan menjadi seorang Ibu. Saat itu dipagi hari saat kami berempat (saya, suami, hisyam 4 tahun dan mba diana BS kami) seperti biasa menembus kemacetan di Jakarta. Rute rutin kami itu mengantarkan hisyam terlebih dahulu, lalu mengantarkan saya dan suami ke kantor. Setelah kami sampai pada TKIT daerah Tebet tempat hisyam sekolah, hisyam menangis karena ingin bersama saya. Ingin ditemani sampai ia pulang. Terpoteklah saat itu hati ini. Melihat hisyam menggandeng tangan mba diana,bukan tangan ibunya, sambil menangis dan merajuk melihat jendela kaca mobil dengan harapan akan dibukakan dan berkata “oke mama sama hisyam sekarang.” Tapi apa yang terjadi next nya? Yup hal itu tidak saya katakan dan lakukan. Yaa Allah..rasanya tidak nyaman langsung menyergap hati ini bagaikan serdadu perang yang menyerang tiada henti. Menangis. Dan berkata kepada suami “ayang, apa yang terjadi pada hatiku? Sakit banget melihat hisyam didampingi oleh orang lain, sedangkan aku melayani orang lain. Berangkat pagi, pulang malam. Menurut ayang kalau aku dirumah urus anak-anak bagaimana? Tapi apa alasan syarii ke kantor? Mereka pun semua baik padaku, Yaa Allah..kerja dikantor dengan orang-orang yang bisa diajak berkompromi itu rejeki yang luar biasa.”

Itulah kebimbangan saya selama 3 tahun yang sudah melumuti hati dan pikiran. Mencari cara alasan apa yang harus dikatakan kepada atasan dikantor. Rasa sayang dan nyaman yang sudah dibangun ditempat kerja selama 4 tahun menjadi rasa kebanggaan sendiri. Sayang sekali rasanya pikir saya. Namun pikiran tersebut dihentakan dengan kegalauan pilihan menjadi Ibu. Namun Maha Kasih Allah tidak pernah lepas dari hamba-Nya, doa-doa terus dipanjatkan siang dan malam, berharap meminta petunjuk-Nya. Ketika itu setelah ayyubi, adiknya hisyam, lahir disitulah saya diberikan suatu situasi yang merupakan alasan syari untuk atasan dikantor. Iyah betul, kepindahan suami ke Malaysia. Diawal kesepakatan pernikahan kami bahwa anak-anak tidak boleh kurang kasih sayang Ibu dan Bapaknya. Apapun yang terjadi harus bersama-sama. Termasuk hijrah ke Malaysia.

Apakah ini mudah? Tentu saja tidak. Justru disinilah tantangan sesungguhnya seorang Ibu. Dua puluh empat jam non stop. Profesi saya terdahulu memang melayani masyarakat, tapi ini beda. Anak-anak bukan dewasa kecil. Tapi manusia kecil, yang mempunyai emosi dan akal. Tiadanya bekal ilmu, diawal tahun setelah resign kami hampir saja menyerah, ingin mundur. Namun ketika suami berkata “Kita disini (jauh dari keluarga) cuma berempat. Gak punya siapa-siapa. Harus saling menguatkan. Harus saling mensupport. Biar makin solid.” Jadi apapun yang terjadi, harus lillah.

Bismillah untuk semuanya. Semoga saya dan kami bisa menjalankannya hanya semata-mata mencari ridho-Nya. Allohumma Aamiin.

#umakhisyam

#umakberkisah

One thought on “Profesi Kita. Profesi Saya. Profesi Ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top