Lemari Buku

Proses Peradaban

4574_80207613882_6325790_n.jpg

Bismillah

Dear ayang,

Ayang sedang apa? Pasti sibuk dikantor? Rapat terus yah? Jangan lupa shalat yah..ambil diawal waktu. Itu yang paling penting.

Ayang,

Hampir sembilan tahun yah tidak terasa, kita berdua bersama menyelami samudera kehidupan. Semua lembaran sudah kita torehkan demi mencapai tujuan kita, berkumpul disurga-Nya. Namun didalam email ini, ada yang ingin aku sampaikan. Maaf dan terima kasih. Yup, hanya kedua kata inilah yang seharusnya aku utarakan untuk ayang selama hampir sembilan tahun ini. Bukan. Bukan karena aku tidak bisa ucapkan secara langsung. Punya beda cita rasa maaf dan terima kasih yang biasa aku ucapkan.

Ayang,

Maaf yah selama ini aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk ayang. Aku tahu ayang sudah berusaha menjadi suami yang terbaik sejak engkau mengucapkan ijab kabul. Engkau sama sekali tidak pernah menuntut ini itu terhadapku. Bahkan saat aku menjelaskan bagaimana sibuknya aku jika ambil sekolah spesialis kandungan, tidak ada waktu untuk keluarga, untuk kita, untuk anak-anak. “Terserah ayang, selama itu positif dan baik, berguna untuk umat dan tidak pernah meninggalkan shalat, Insyaa Allah aku selalu mendukung. Tak usah ayang hiraukan aku dan anak-anak. Tenang ada Allah.” Sejak saat itu tak pernah sekalipun ayang berkeluh kesah pada segala yang aku lakukan. Hatimulah yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

Kini atau nanti, telah ku sadari bahwa aku menikahi seorang pria yang sempurna, sempurna karena segala kekurangannya dan kelebihannya. Maafkan istrimu ini yang masih perlu waktu belajar untuk menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi kita dan anak-anak. Maaf yah ayang, aku sudah banyak merepotkan dirimu..

Ayang,

Terima kasih untuk segala tetesan keringatmu yang sudah kau keluarkan demi keluarga kecil kita. Dalam ketidaksempurnaanmu engkau berusaha untuk menjadi sempurna. Engkau selalu memenuhi kebutuhanku dan anak-anakmu. Tak pernah kau lihat jumlah yang mesti engkau keluarkan. Aku tahu engkau ingin keluarga kecil kita ini bahagia dunia akhirat. Tapi sadarkah kau, hati emasmulah jauh lebih mahal dari segala apa pun didunia ini. Kesetiaan yang engkau berikan untukku sudah melebihi yang ku pinta. Setiap kali kulihat sinar mata anak-anak, ada rasa bangga dan cinta terhadapmu. Mungkin engkau tidak sadar, dengarlah ketika anak-anak menyambutmu ketika engkau pulang ke rumah di sore hari. Gembira bukan? Begitu juga dengan diriku. Terutama ketika engkau memutuskan untuk hijrah ke negeri jiran. Bangganya diriku pada mu. Mempunyai suami yang luar biasa hebat.

Terima kasih sayangku, semoga setiap langkahmu selalu diberkahi oleh Allah Subanallahu wa ta’alla. Aamiin.

 

Abang hisyam..

Alhamdulillah hampir 7 tahun in abang hisyam ini mempunyai begitu banyak potensi yang baru saya temui. Mungkin sebenarnya masih banyak lagi. Ia sangat menyukai dengan aktifitas fisik, seperti berlari, memanjat dan berenang. Tidak bisa diam. Jarang. Sekalinya diam hanya tidur saja. Mengeksploitasi sesuatu hal yang baru sangat ia sukai. Membongkar dan membangun kembali adalah kegiatan favoritnya. Tak heran permainan lego hampir mengisi lemari mainannya. Berbeda dengan umaknya yang menyukai buku, setiap ia bersentuhan dengan lembar demi lembar, tangan kanannya penasaran untuk selalu mencoret-coret. Termasuk semua text book umaknya. Tapi ketika saat saya membacakan dongeng pengantar tidurnya, ia selalu mengajukan pertanyaan untuk berdiskusi sampai ia puas.

Namun dibalik tubuh yang kuat dan aktif itu, ada hati yang halus dan lembut seperti papanya. Selalu mengalah, pemaaf dan penyayang. Pernah suatu kali ia lupa pamit berangkat sekolah terhadap adiknya yang masih berusia 3 bulan, ia pun meminta maaf dan memberikan kecupan ringan agar tenang belajar disekolah. Mulia sekali akhlakmu nak..

 

Ayyubi..

Yaa Allah..penantian panjang selama 6 tahun ini merupakan buah rasa syukur kami. Bayi mungil yang luar biasa tampannya, sungguh aktif dan cerewet. Tidak bisa kami lepas dari mu nak, lihatlah betapa keras kemauanmu. Dikala haus, waktu untuk makan dan minum sulit mama didapatkan. Walaupun mama belum bisa menelisik potensi pada dirimu, mama yakin engkau akan menjadi pemimpin yang tangguh dan kuat seperti abangmu.

 

Umaknya anak-anak..

Yaa Rabb..saya paling suka yang namanya rapih, bersih dan terorganisir. Segala sesuatunya  harus terkategori. Makanya tidak heran jika pria-pria dirumah selalu bilang “mama aneh”. Mungkin. Hihihi. Saya tahu benda-benda dirumah jika bergeser 1 cm dari tempatnya. Agak lebay nih. Atau tidak pada tempatnya lagi. Contoh saya menyusun buku-buku berdasarkan kategori, dan yang tahu hanya saya saja. Oops. Apalagi lemari baju, berdasarkan warna dan bahan. Namun gejala-gejala aneh ini mulai berkurang ketika dikatakan “aneh”. Hiks.

Setelah itu yang paling saya sukai adalah membaca dan menulis. Ritual ini sering membuat lupa diri. Biasanya setelah habis buku, sering saya buat catatan kecil. Mungkin kebiasaan sejak remaja dahulu.

 

Lingkungan sekitar..

Alhamdulillah sampai saat ini saya dan keluarga kecil kami tinggal bersebelahan dengan orang tua saya. Ada pintu rumah yang menghubungkan rumah kami. Sampai detik ini kami masih berusaha untuk menselaraskan visi misi dan tujuan kami dengan mereka, terutama dalam hal pengasuhan tentang anak. Tidak mudah. Tapi perlahan-lahan Insya Allah makin selaras.

Tetangga kami alhamdulillah mempunyai satu tujuan yang sama, bersama-sama meningkatkan akhlak anak-anak. Masjid menjadikan tempat awal peradaban lingkungan sekitar. Kegiatan-kegiatan islami dan peraturan-peraturan dalam hal tetangga tumbuh didalam masjid. Baik dari pengajian dan jam malam yang diberlakukan dilingkungan sekitar kami. Terutama menanamkan dalam hati anak-anak untuk mencintai masjid.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top