Uncategorized

Reaksi Angah

Ananda Putri Maharani

Along duduk termenung memikirkan reaksi perasaan Mama. Ia membayangkan Mama pulang ke rumah Eyang, sedangkan dirinya terpisah jauh bersama Papa berdua. 

Saat ini, Along, Mama, Papa dan kedua adiknya tinggal terpaut ratusan kilometer dari kota kelahirannya. Kota yang Mama rindukan beberapa hari ini. Pun, ia rindu juga. 

“Angah, Mama mau pulang ke rumah Eyang, kamu sama Abang di sini,” ujar Along melihat Angah yang sedang asyik menyusun balok-balok berwarna-warni kecil menjadi suatu bangunan yang menjulang tinggi. Di bawahnya tersedia celah untuk dilalui kendaraan dan pejalan kaki. 

Angah melirik Along hanya sepersekian detik. Di dalam imajinya disibukkan aktivitas balok-balok kecil dihadapannya. Ia tidak menyerap sempurna pertanyaan dari Abangnya.

“Angah …!” panggil Along kedua kali.

“Abang, lihat! keren, kan?” sela Angah seraya mengangkat tinggi bangunan balok itu. Ia tidak mengindahkan panggilan Abangnya lantaran asyik dengan mainannya.

“Mama mau pergi jauh, ke rumah Eyang,” bisik Along mendekatkan wajah Angah.

Angah tidak sengaja menjatuhkan bangunan yang sudah ia susun itu. Ia menatap lekat-lekat mata bulat coklat abangnya. 

“Abang bohong!” sergah Angah belum mengedipkan kedua kelopak matanya, “tuh, Mama masih di rumah.”

“Bukan sekarang. Tapi nanti. Kemarin Mama cerita mau pulang ke rumah Eyang. Kita berdua akan ditinggal di sini sama Papa,” jelas Along menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan adiknya yang masih berumur empat tahun itu. 

“Mamaaa,” teriak Angah yang serupa khawatir dengan abangnya itu. Ia pun sudah mengira kesedihan yang ditutupi itu.

“Eh, jangaaan,” cegah Along menarik lengan kecil dan kurus Angah. 

Angah mengaduh kesakitan.

“Maaf,” kilah Along, “jangan bilang ke Mama. Nanti Mama akan tambah rindu sama Eyang.” 

Along merasa bersalah telah menyampaikan hal ini kepada Angah. Ia baru menyadarinya, Angah yang sedari bayi tidak pernah berpisah jauh berhari-hari dari Mama, belum bisa menerimanya. 

Berbeda dengan dirinya, ia sudah sering ditinggal kerja oleh Mama. Bahkan saat Mama dinas luar selama empat hari lamanya. 

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top