Uncategorized

Sudah Terima, kah?

Oleh: Ananda Putri Maharani

“Papa mau ke mana?” Along melihat Papa sudah siap mengenakan jaket dan masker di wajahnya. 

“Mau ke rumah sakit. Ada titipan untuk Mama,” jawab Papa, “Along di rumah dulu, ya. Jagain Angah. Insyaallah Papa hanya sebentar.”

“Pa, tunggu sebentar. Along juga ada titipan untuk Mama,” sela Along menghentikan langkah Papa.

Kemudian dengan segera Along mengambil secarik kertas putih berukuran A4 dan sebuah pensil dari dalam tas sekolahnya yang kini sudah lusuh. 

Lalu, Along merangkai kata dan membingkai kalimat menjadi suatu pesan indah untuk disampaikan. Sebelum melipat kertas putihnya, pesan itu diakhir dengan tanda ‘titik’ sekaligus menyerahkan kepada Papa.

“Papa, tolong kasih Mama, ya. Mama harus baca. Nanti kalau sudah baca, bilang ke Mama telpon Along, ya,” sambung Along.

“Papa, boleh baca?” selidik Papa penasaran.

“Gak boleh. Itu Papa lihat, deh, untuk siapa Along tulis,” sungut Along menunjuk sisi luar surat tertulis ‘Untuk Mamaku Sayang’.

“Oke, insyaallah Papa sampaikan. Papa berangkat dulu.”

“Janji, ya, Pa. Enggak boleh lihat,” Along kembali menegaskan Papanya.

Tidak sampai lima belas menit, Papa sudah menyerahkan titipan berikut surat dari Along.

“Nih, ada surat,” ujar Papa tersenyum geli teringat tingkah laku anak sulungnya itu.

“Apa ini?” tanya Mama dibarengi dengan nada panggilan video pada layar ponselnya.

“Assalammualaikum, Mama.” 

Terdengar suara ceria khas Along dari ponsel Papanya. Along sengaja diberikan pinjam ponsel oleh Papanya untuk hal-hal yang genting.

“Wa’alaikumussalam, Sayang,” jawab Mama tersenyum melihat layar ponsel yang didominasi pipi gembul anaknya itu.

“Mama sudah baca suratnya?” tanya Along penasaran.

“Ini baru mau Mama baca, eh, Along telepon Mama,” timpal Mama.

“Oh, ya, sudah. Dibaca sekarang, ya. Nanti Along telepon lagi. Assalammualaikum,” putus Along sebelum dibalas oleh Mamanya. 

Surat itu dibaca perlahan oleh Mama, dengan ukuran tulisan besar kecil dan jarak antar kata yang beragam, membuat Mama makin tersenyum geli. 

Hati Mama berucap, ‘romantis dan sangat beruntung jika ada seorang gadis selalu menerima surat seperti ini.

Masyaallah Tabarakallah.’

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top