Uncategorized

Terancam Tutup

Oleh: Ananda Putri Maharani

Pada bulan Januari, pemerintah sudah mencanangkan kegiatan sekolah tidak dilakukan secara daring. Sudah hampir dipenghujung waktu liburan, Along masih terlihat belum ada persiapan masuk sekolah. 

“Along, minggu depan sudah masuk sekolah. Kamu sudah siapkan perlengkapannya?” tanya Papa setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.

“Belum, Pa,” jawab Along biasa.

“Kok, belum?” balas Papa mengharapkan respon Along menjelaskan penyebabnya.

“Kan, belum ada pengumuman dari sekolah, Pa. Along juga bingung harus mencari tahu ke mana lagi,” jelas Along.

“Iya, juga, ya. Kok, sekolahmu belum ada kabar, ya, Nak?” Papa merasa khawatir dengan situasi sekolah Along akhir-akhir ini. 

Beberapa bulan yang lalu, hampir semua orang, perusahaan, sekolah terkena dampak pandemi Covid-19. Termasuk sekolahnya Along. Mereka memberikan kabar kepada seluruh orang tua murid bahwa sekolah terancam tutup.

Karena salah satu syarat berdirinya sekolah pada tahun ini belum tercapai. Hanya empat puluh murid baru yang terdaftar, di mana seharusnya minimal enam puluh murid.

“Ehm …, nanti Along coba tanyakan sama Ahmad, teman sebangku Along, deh!” ujar Along.

“Iya, boleh juga itu, Nak,” 

“Papa sudah melihat whatsapp group sekolah?” tanya Mama seraya merapihkan meja makan.

“Sudah, tapi belum ada kabar juga,” sambung Papa membantu Mama mengumpulkan semua piring dan gelas di atas meja makan.

Situasi ini membuat Along, Papa dan Mamanya khawatir. Selain tidak ada waktu untuk mencari sekolah yang sesuai visi dan misi, pilihan menetap bukan hal yang mudah dijalani.

“Kalau tutup, Along sekolah di mana, Ma? Pa?” tanya Along melihat kedua orangtuanya saling berpandang ragu.

“Semoga tidak tutup, ya, Sayang. Kita harus banyak berdoa. Mama yakin kepala sekolah, guru-guru, dan para orang tua murid, akan mencari solusinya bersama-sama,” jelas Mama menenangkan Along.

“Betul, saat ini kita siapkan hal-hal yang bisa kita persiapkan. Misal buku-bukumu mulai kita cari di toko buku,” lanjut Papa.

Along mengaminkan semua yang diucapkan Mama dan Papa. Ia hanya takut jika pindah ke sekolah baru, tidak akan bertemu dengan Ahmad dan teman-temannya lagi. 

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top