Uncategorized

Tidak Ingin Berpisah

Ananda Putri Maharani

Along sudah memasuki usia awal remaja. Ia sudah mulai bisa memetakan jadwalnya setiap hari. Rutinitas pagi sampai malam ia jalani sesuai ketetapan di atas kertas putih. 

Ia menatap erat jadwalnya. Mulutnya komat-kamit seperti melafazkan kalam-Nya. Namun, bukan itu yang Mama duga. Along sedang menghitung hari bermain gem bersama sahabatnya.

“Along sedang apa?” tanya Mama penasaran.

“Tidak, Ma. Hanya melihat jadwal sekolah,” ujar Along sekenanya.

Along mendekati Mama dan duduk bersender pada sofa. Ia menatap wajah Mamanya. Tangannya membelai mengikuti garis halus di bawah mata mamanya. 

“Mama, ini apa?” tanya Along dengan rasa penasarannya ia menghitung garis halus itu.

“Eh …, oh … itu namanya garis keriput. Tanda penuaan pada seseorang,” sambung Mama tersenyum yang makin terlihat jelas garis wajahnya.

“Mama, kan, belum tua,” tegas Along merebahkan kepalanya di atas paha Mama. 

Mama tersenyum mendengarnya.

“Alhamdulillah. Tapi, ini hal yang manusiawi. Semua hamba Allah Swt. pasti akan menjadi tua,” seloroh Mama mengelus rambut Along yang makin panjang dan tebal.

 Lalu, Along melihat pantulan cahaya putih dari helaian rambut Mama.

“Mama, kok, punya uban?” Along makin risau dengan keadaan mamanya. Selama ini, ia tahu rambut uban termasuk tanda orang akan meninggal.

“Along tidak mau Mama meninggal,” sedih Along memeluk erat pinggang Mamanya, lalu ia menenggelamkan wajahnya pada daster warna hijau toska itu.

Mama tertawa terbahak-bahak. 

“Nak, semua yang bernyawa pasti akan mati. Tidak harus punya uban. Yang belum punya, pun, akan mati juga,” jelas Mama.

“Uban itu hanyalah suatu proses penuaan. Semua akan mengalami hal yang sama.”

“Oooh …, nanti Along juga akan tua, ya, Ma? Punya uban juga?” Along kembali menyimpulkan.

“Betul, Sayang. Yang terpenting, Along tidak usah khwatir. Selama kita tetap beribadah dan mengharapkan kasih sayang Allah Swt. kepada kita.”

“Iya, Ma. Along jadi lebih tenang sekarang. Semoga kita semua dikumpulkan kembali di Surga-Nya, ya,” senyum Along kembali menerima elusan hangat dari Mama.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top