Uncategorized

Versi Terbaik

Ananda Putri Maharani

Warna jingga langit kian memudar. Kelas daring Along belum menampakkan tanda akan berakhir. Along sudah memainkan mimik wajahnya di depan layar komputer. Nasib baik kamera yang sedari tadi menyala, tidak lupa dipadamkan.

“Bang, kok, main-main? Kan, gurunya masih menerangkan,” tegur Mama melihat Along mulai kebosanan mendengarkan gurunya berbicara.

“Aku tidak main-main, Ma” protes Along membetulkan posisinya.

“Lalu?” 

“Iya, ini, gurunya sedang berbicara sama temanku, Ma. Dia belum menyelesaikan latihannya,” jelas Along makin rundung.

“Oh … Along sudah selesai?”

“Sudah, dong, Ma. Sekarang kita hanya menunggu saja,” ujar Along kembali memainkan kursi hijau kecil miliknya itu. 

Mama mengangguk. 

Along memandang luar arah teras rumahnya. Sudut jalan yang luas itu sudah dipadati kendaraan roda empat. Suara-suara klakson mengudara dan bersahutan seakan-akan meneriakan pemilik kendaraan itu ingin mencapai tujuannya.

Tiba-tiba Along tersadarkan oleh aroma sajian yang sudah siap dihidangkan di atas meja makan. 

“Wah, Mama, enak banget!” seru Along mengamati satu persatu lauk ikan goreng dan sayur bening bayam kesukaannya.

“Alhamdulillah,” Mama tersenyum dan mengecup kening putih milik Along. 

“Along senang kalau Mama di rumah. Bisa masak terus,” teriak Along semangat seraya meluncur mengambil piring, sendok, dan garpu.

“Masyaallah Tabarakallah, Mama hanya menjalankan pilihan Mama saja.”

“Pilihan? Memang Mama sedang memilih?” tanya Along keheranan.

“Iya, saat itu Mama harus memilih antara kerja di kantor atau bersama anak-anak Mama di rumah,” seloroh Mama.

“Terus, Mama memilih Along, Angah dan Amok, kan?” tanya Along.

“Betul sekali, Nak. Mama telah memilih kalian dan ikut bersama Papa.”

“Mama gak sedih? Kan, Mama dokter, pasti dicari sama pasien-pasien, Mama,” papar Along mengambil satu centong nasi di dapur.

“Alhamdulillah, Mama tidak sedih, Nak. Tapi, sangat rindu,” sahut Mama memandangi Along menikmati remahan bumbu ikan goreng di piringnya.

Along tersenyum dan mengancungkan ibu jarinya.

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top