Uncategorized

Yuk, Kenali Roseola

Oleh: Ananda Putri Maharani

Ada yang pernah mendengar Roseola? Bagus, ya, namanya. Anak ketiga kami, yang berusia 10 bulan, baru saja mengalaminya. 

Dengan segala macam rupa dugaan pada situasi seperti ini (pandemi Covid-19), hanya bertawakal dan ikhtiar tanpa henti untuk kesembuhan si kecil.

Mau tahu kisahnya seperti apa? 

Yuk, disimak, ya, sekalian bertaaruf dengan virus Roseola.

Setelah menyebutkan namanya, pernah terbayang, kah, bahwa sesungguhnnya Roseola itu salah satu nama virus.

Roseola adalah infeksi virus herpes. Jenis virus herpes yang tersering menyebabkan Roseola mempunyai dua tipe, HHV-6 (Human herpesvirus tipe 6) dan HHV-7 (Human herpesvirus tipe-7). Walaupun sama disebut dengan herpes tapi jenis ini berbeda dengan virus herpes pada penyakit menular seksual.

Lalu, virus Roseola ini paling sering menyerang bayi dan anak-anak pada rentang usia 6-24 bulan. Pada umumnya dikenal dengan Roseola Infantum. Namun, anak-anak, remaja dan dewasa juga bisa terserang, meskipun jarang. 

Aduh, kasihan, ya?! 

Berbahaya, gak, sih?

Pada umumnya Roseola tidak berbahaya, selain penyebabnya virus (self-limiting disease) yang bisa sembuh dengan sendirinya, hanya saja gejala yang ditimbulkannya ada rasa tidak nyaman. 

Apalagi terjadi pada rentang usia bayi yang didominasi fase oral dan eksplorasi yang tinggi, sangat rentan sekali tertular virus ini. Penderita yang tidak menjaga kebersihan dirinya sangat mudah sekali menularkannya melalui percikan air ludah atau ingus yang terhirup bahkan tertelan oleh anak-anak.

Bahkan virus ini bisa bertahan hidup pada permukaan benda-benda di sekitar kita. Sudah dipastikan, anak-anak dengan usia yang beresiko itu, sangat rentan terinfeksi karena belum terbentuknya sistem kekebalan tubuh yang optimal.

Gejala awal yang sering dikeluhkan para orang tua, adalah demam tinggi. Suhu tubuhnya bisa mencapai >39 derajat Celcius. 

Biasanya, anak-anak sudah terlihat lemas dan sama sekali tidak ada selera makan. Demam hari pertama sampai ketiga memang sulit sekali memastikan penyebabnya. 

Ketika demam mulai masuk hari ketiga dan kondisi anak tidak ceria apalagi beraktivitas, jangan ragu membawanya ke klinik terdekat. Karena begitu banyak diagnosis pembandingnya, misal yang paling sering Demam Berdarah Dengue. 

Namun, untuk kasus anak ketiga kami, diindikasikan dirawat karena kondisi fisik yang lemas dan tidak ada makanan yang masuk. Meskipun saat itu hasil darah lengkapnya hanya dikatakan infeksi virus. 

Setelah dirawat dua hari dan demam sudah mulai turun, timbul ruam pada kulit (eksantema sibitum) di punggungnya. Ibu mana yang tega melihat anaknya sakit? Ingin rasanya menggantikan posisi dirinya.

Lalu, bagaimana dengan proses penyembuhannya? 

Besok kita lanjutkan, ya …, insyaallah. 

Ananda Maharani
<p>Seorang umak yang berhijrah ke negeri jiran yang masih semangat belajar berkisah mengenai parenting, gaya hidup sehat, travelling dan teknologi . Terima kasih sudah membaca kisah umak. Semoga bermanfaat dunia akhirat.</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top